Kamal Guci: Maestro yang Menjaga Marwah Minangkabau Lewat Kanvas


PARIAMAN – Di tengah gempuran seni modern dan abstrak, nama Kamal Guci tetap kokoh berdiri sebagai benteng pelestari budaya Minangkabau melalui aliran realisme-naturalis. Pelukis asal Padang Pariaman ini dikenal bukan sekadar karena keindahan visualnya, melainkan karena kemampuannya "memotret" jiwa Sumatera Barat yang mulai memudar.

Dalam setiap goresan kuasnya, Kamal konsisten menghadirkan objek ikonik seperti Rumah Gadang yang sudah berumur, surau tua, hingga aktivitas pedati di jalanan setapak. Namun, lukisan-lukisannya bukan sekadar pemandangan molek semata. Bagi Kamal, Rumah Gadang yang tampak rapuh dalam karyanya adalah sebuah kritik sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur agar tidak runtuh ditelan zaman.

"Saya melukis apa yang saya rasa hampir hilang. Ini adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai putra daerah," ungkapnya dalam sebuah kesempatan pameran.

Keteguhan Kamal dalam jalur naturalisme ini membuahkan apresiasi tinggi dari para kolektor nasional. Nama-nama besar seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X hingga tokoh nasional lainnya tercatat mengagumi dan mengoleksi karyanya. Meskipun telah meraih sukses di tingkat nasional, Kamal tetap memilih berkarya dari studio sederhananya di Dusun Sarang Gagak, membuktikan bahwa karya yang mendunia bisa lahir dari kecintaan yang mendalam pada akar lokal.

Kini, di usianya yang matang, ia terus menginspirasi generasi muda perupa di Sumatera Barat untuk berani menggali identitas budaya sendiri sebagai sumber inspirasi yang tak akan pernah habis.