Titik awal perjuangan beliau bermula dari himpitan ekonomi di masa kecil. Lahir di Subang Anak, Batipuh, Tanah Datar pada 18 Agustus 1949, Mak Katik tidak sempat menamatkan sekolah dasar. Namun, semangat belajarnya luar biasa. Sejak tahun 1959, ia berguru pada tiga tokoh adat di kampungnya. Ia mengawali pengabdiannya dengan menyalin setiap bait pelajaran adat dan pantun di atas kertas rokok setiap malam karena keterbatasan biaya. Ketekunan inilah yang membuatnya menguasai hampir seluruh aspek budaya, mulai dari silat, saluang, talempong, hingga penulisan naskah randai.
Titik balik yang luar biasa terjadi ketika ilmu yang ia catat di kertas rokok tersebut membawanya menjadi pengajar di universitas-universitas ternama. Meski tidak memiliki ijazah sekolah dasar, kedalaman ilmunya membuat Mak Katik dipercaya menjadi dosen tamu di University of Hawaii, Amerika Serikat, dan Akademi Seni Warisan Budaya Kebangsaan Malaysia. Di dalam negeri, beliau menjadi tumpuan mahasiswa di Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Andalas (Unand) untuk mata kuliah Falsafah Adat Minangkabau.
Mak Katik bukan hanya seorang budayawan, tapi juga seorang pengajar dan aktor yang konsisten menjaga kemurnian adat Minangkabau di tengah gempuran zaman. Beliau menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi, jika ditekuni dengan sungguh-sungguh, akan memiliki martabat yang sangat tinggi di mata dunia.
Kisah Mak Katik adalah pengingat bagi kita semua: Alam Takambang Jadi Guru. Selama ada kemauan untuk belajar, dunia akan menjadi kelas bagi kita.
Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia - "Musra Dahrizal"
Postingan: Pituluik
