ONENEWSINDO.COM, PARIAMAN – Perayaan Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026 kembali menjadi magnet budaya yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Event yang masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini berlangsung di Kota Pariaman, Sumatera Barat, dengan puncak acara dijadwalkan pada 28 Juni 2026 di kawasan Muaro Gandoriah dan Pantai Pariaman.
Tabuik bukan sekadar pesta budaya.
Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun ini merupakan bentuk penghormatan dan peringatan atas gugurnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala. Nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal berpadu menjadi satu dalam rangkaian prosesi yang sarat makna.
Berbagai kegiatan turut memeriahkan festival tahun ini, mulai dari Pasa Ekraf Fest, Bandagala Tabuik 2026, hingga Grand Final Cik Uniang Cik Ajo 2026 yang menampilkan generasi muda berbakat sebagai duta budaya Pariaman.
Rangkaian prosesi Tabuik diawali dengan Mambiak Tanah (mengambil tanah), sebuah ritual yang melambangkan asal-usul penciptaan manusia. Selanjutnya dilaksanakan Manabang Batang Pisang (menebang batang pisang) yang menggambarkan perjuangan dan pengorbanan dalam sejarah Karbala.
Prosesi kemudian berlanjut dengan Maatam dan Maarak Jari-Jari, yaitu kegiatan mengenang wafatnya Husein bin Ali yang dilaksanakan dengan penuh khidmat dan penghormatan. Setelah itu, dilakukan Tabuik Naiak Pangkek, yakni menyatukan seluruh bagian Tabuik hingga menjadi bangunan utuh yang megah dan menjulang tinggi.
Suasana semakin semarak saat Hoyak Tabuik, ketika Tabuik diarak keliling kota oleh ribuan masyarakat yang memadati jalan-jalan utama Pariaman. Iringan gandang tasa, sorak masyarakat, dan semangat kebersamaan menciptakan atraksi budaya yang memukau.
Puncak perayaan ditandai dengan prosesi Tabuik Dibuang Ka Lauik, yaitu melarungkan Tabuik ke laut. Prosesi ini menjadi simbol pelepasan duka sekaligus pengingat bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Pariaman, tetapi juga menjadi bukti bahwa tradisi leluhur tetap hidup dan mampu menyatukan sejarah, agama, seni, serta pariwisata dalam satu perayaan yang memikat semua kalangan.
"Tabuik bukan sekadar tontonan, melainkan warisan budaya yang menyimpan sejarah, nilai spiritual, dan identitas masyarakat Pariaman yang terus dijaga dari generasi ke generasi." (Ibrahim)
