Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pasaman Barat beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran masyarakat, terutama para pengguna jalan. Salah satu titik yang dinilai paling rawan adalah sepanjang ruas jalan Polongan Enam Talu, Kecamatan Talamau menuju Kajai. Jalur ini dilaporkan mengalami peningkatan risiko genangan, tanah longsor, hingga badan jalan terban (ambles).
Geografi kawasan Talamau yang didominasi oleh perbukitan curam dan tebing tanah yang labil menjadi faktor utama tingginya potensi bencana di jalur ini. Saat musim penghujan, air hujan meresap dan membebani lereng, sehingga sangat rentan memicu pergerakan tanah mendadak.
Berdasarkan pantauan dan laporan warga setempat, beberapa titik di sepanjang jalur Polongan Enam menuju Kajai kerap mengalami penurunan tanah dan keretakan pada aspal. Kondisi ini diperparah oleh aliran air yang meluap ke badan jalan mengikis pondasi jalan secara perlahan.
Kemudian beberapa tebing di sisi jalan belum memiliki dinding penahan (tanggul) yang memadai, sehingga material tanah dengan mudah meluncur saat diguyur hujan deras., dan medan yang berliku membatasi jarak pandang pengendara, memperbesar risiko kecelakaan jika material longsor tiba-tiba menutupi jalan.
"Kalau hujan sudah turun lebih dari dua jam, kami yang lewat sini harus ekstra waspada. Kadang ada kerikil jatuh dari tebing, itu tanda-tanda tanah di atas mulai labil," ujar roni (34), salah seorang pengendara motor yang rutin melintasi jalur tersebut.
Pihak berwenang dan jajaran penanggulangan bencana daerah mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama pada sore hingga malam hari saat intensitas hujan biasanya meningkat.
Pemerintah daerah diharapkan segera menurunkan tim teknis untuk memetakan titik-titik paling kritis serta menyiagakan alat berat di sekitar area Talamau guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu akses jalan terputus akibat material longsor.
(Pena Keumatan)
