Pasaman Barat — onenewsindo.com
Sore yang semestinya dilalui dengan ketenangan berubah drastis menjadi momen penuh kecemasan bagi warga Kampung Pinariman, Jorong Tanjung Beruang, Nagari Kajai Selatan, Kecamatan Talamau. Tepat pada Kamis, 3 September 2026 sekira pukul 17.15 WIB, saluran air meluap dengan deras, tumpah ruah merendam puluhan rumah warga serta melumpuhkan badan jalan raya di kawasan tersebut.
Bencana berulang ini terjadi akibat ketiadaan infrastruktur dasar yang krusial, yakni sistem drainase atau saluran pembuang yang memadai di sepanjang sisi jalan raya. Ketika curah hujan meningkat, volume air yang datang seketika kehilangan jalur pembuangan yang jelas. Akibatnya, air bah meluber begitu saja, menggenangi permukiman padat penduduk dan mengubah jalur lintas utama menjadi kubangan air berlumpur yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Wati (50), salah seorang warga setempat yang rumahnya terdampak langsung, tak dapat menyembunyikan rasa cemas dan lelahnya. Setiap kali langit mulai mendung dan hujan turun mengguyur wilayah Talamau, ia bersama warga lainnya selalu dihantui rasa takut akan kedatangan air bah.
"Setiap kali hujan turun, kami selalu dihantui rasa takut. Air meluber begitu saja masuk ke dalam rumah karena memang tidak ada parit atau drainase di sini. Barang-barang rumah tangga sering kali terancam rusak, dan kami harus berjibaku membersihkan lumpur setiap kali air surut. Kami mohon pihak terkait segera turun tangan," keluh Wati dengan nada penuh harap.
Kondisi ini tidak hanya meresahkan warga yang tinggal di sekitar lokasi, tetapi juga dikeluhkan oleh para pengendara yang melintas. Badan jalan yang terendam air membuat arus lalu lintas dari dan menuju kawasan tersebut mengalami lumpuh parsial. Para pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati demi menghindari lubang yang tertutup genangan keruh, sementara kendaraan roda empat harus memperlambat laju kendaraan untuk menghindari kecelakaan akibat jalan yang licin.
Melalui peristiwa yang terus berulang ini, warga Kampung Pinariman bersama para pengguna jalan melayangkan desakan keras kepada instansi terkait, khususnya Bagian Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat. Ruas jalan yang menjadi titik luapan air tersebut diketahui merupakan kewenangan provinsi, sehingga penanganan yang komprehensif sangat dinantikan.
Ketiadaan infrastruktur drainase yang layak di ruas jalan provinsi tersebut dinilai telah memberikan dampak merugikan secara nyata dan berkepanjangan. Kerugian ini mencakup aspek kenyamanan, keselamatan pengendara, hingga ancaman kerusakan harta benda milik warga yang kerap menjadi korban genangan lumpur setiap kali musim hujan tiba.
Warga berharap pihak Dinas BMCKTR Provinsi Sumatera Barat segera menerjunkan tim teknis ke lapangan guna melakukan peninjauan mendadak. Langkah tanggap darurat berupa pembersihan material dan perencanaan pembangunan saluran air atau drainase permanen sangat diharapkan dapat segera direalisasikan sebelum persoalan ini memicu kerugian material yang lebih besar maupun korban jiwa di masa mendatang.
(Pena Keumatan)
